Aduh.. Bisa Gila Nech...^_^
Praanngg...Ya ampun, pusing aku selalu mendengar pecahan piring yang kemudian diiringi alunan teriakan ibu, tapi lucu juga sih. Seakan-akan Dodo senang bila ibunya marah. "Dooodooo, Dodo. Sudah berulang kali kan ibu bilang supaya kamu jangan lempar-lempar piring ibu lagi. Sudah dua piring yang kamu pecahkan hari ini tahu", teriak ibu. "Ya elah bu. Baru juga dua, belum satu lemari kan bu. Masih ada yang lain kok. Lagian ya bu, Dodo kan baru lempar piring. Dodo belum lempar tivi, kipas angin. Masa gitu aja uda marah?" Jawab Dodo. "Ya sudah Do. Lagian ibu juga selalu beli piring baru lagi. Jadi, mending besok kamu lempar saja tivinya. Biar ibu beli yang baru. Kan enak."Saranku pada Dodo karna aku suda bosan menonton tivi yang berukuran 30x30 ini. "Wele wele... Wong edan nambah satu toh ya.. Sudah Dodo. Kamu jangan dengarkan Mimi. Emang dasar dia sudah gila sepertinya." "Ibu... Ibu... Kalo Mimi edan, berarti ibu lebih edan dong udah mau jadiin Mimi anak. Ibu gilaa... Ibu gila...", ledek Dodo. "Dodoo... Ibu sudah cape lihat kelakuanmu. Kamu cuma bisa buat ibu kesal saja. Kamu selalu saja pecahin piring. Memang kamu pikir piring itu ibu beli pake apa?" "Ibu, mana Dodo tau ibu beli piringnya pake apa. Sapa tau aja ibu beli pake daun. Kan ibu ga ngajak Dodo pas belinya. Tapi yang Dodo tau sih ibu kalo pergi ke pasar pasti pake baju kan bu. Ya ga Mi?" "Betul itu betul. Trus satu lagi bu. Ibu kan cape liatin kelakuan Dodo. Kalo cape kenapa ibu masih liatin hayoo?" "Betul juga kamu Mi. Lebih baik ibu pergi saja." "Ibu.... Janganlah engkau pergi ibu.... Kalo ibu pergi berarti aku adalah manusia paling malang." "Kenapa kamu ngomong gitu Do?", tanyaku. "Kata orang, Surga ada di telapak kaki ibu. terus kalo ibu pergi aku jadi ga bisa masuk surga dong." "Tenang nak, ibu tak akan pergi lama kok." jawab ibu lalu ibu melanjutkan kata-katanya lagi."Ibu haya mau pipis saja kok". hahahahahahahahahaha...Bandung Hari Ini :(
Melbourne pada pukul sebelas malam. Kamar Arga masih terang. Di dalam, si empunya sedang asyik menatap laptop Sony Vaio hitam. Chatting dengan Anna. Sebuah aktivitas yang entah sejak kapan menjadi rutinitas Arga tiap Jumat malam.Mereka bertemu pada salah satu acara tahunan yang diadakan sebuah unit kegiatan mahasiswa bidang kesenian kampus. Saat itu Arga, yang statusnya alumni, diajak oleh temannya, Nico, menonton pagelaran musik. Nico pula yang mengenalkannya pada Anna; vokalis sebuah band beraliran jazz yang kebetulan manggung malam itu.
Arga yang sebelumnya sedang tertawa terbahak-bahak dengan beberapa juniornya dari Teknik Kelautan langsung jaga image ketika Nico datang mendekat dengan cewek berwajah oval dengan rambut panjang lurus di sampingnya. Karena Nico sudah punya pacar, Arga mengasumsikan cewek itu temannya.
"Kenalin nih temen gue," seolah membaca permintaan terpendam Arga, Nico memperkenalkan si teman. "Ini Anna. Na, ini Arga..."
Arga langsung pasang senyum cool-nya. Anna menjabat tangan Arga sambil balas tersenyum manis. "Halo..."
Arga, Anna, dan Nico langsung terlibat dalam percakapan ringan yang cukup seru. Berkali-kali Arga melirik Anna yang tampak antusias dalam mendengarkan lawan bicaranya dan tertawa lepas setiap lelucon kocak terlontar. Nico sepertinya memang berniat memperkenalkan Arga pada Anna karena setelah beberapa saat dia meninggalkan mereka berdua untuk mendatangi temannya yang lain.
Anna seorang gadis yang manis, Arga membuat catatan dalam hati. Caranya mendengarkan cerita-cerita Arga, menaruh perhatian dan banyak bertanya, senyum yang tampak tak pernah lepas dari wajahnya...
Setelah malam itu, Arga memberanikan diri menghubungi Anna lagi dan mengajaknya 'jalan' dan cewek itu menyanggupi. Anna memang pendengar yang baik tapi juga tipe orang yang agak tertutup. Dia bicara seperlunya tentang dirinya sendiri dan lebih banyak bertanya tentang Arga. Arga, di lain pihak, adalah cowok yang supel dan banyak omong. Tapi dugaan Arga sebelumnya tepat, Anna membuat Arga merasa senang menghabiskan waktu bersamanya.
Setelah itu keduanya rutin saling menelpon atau mengirimkan SMS. Beberapa kali mereka jalan bareng. Anna dan Arga sama-sama tahu bahwa Arga akan berangkat ke Melbourne untuk melanjutkan studi kurang dari sebulan lagi. Kadang-kadang Arga merasa kesal kenapa baru sekarang kepastian beasiswa S2-nya datang. Di saat sebetulnya masih banyak yang ingin dilakukannya di Indonesia.
Sebelum bertemu Anna, Arga memang sedang getol-getolnya mencari calon pacar. Ada cewek yang dia suka, tapi ternyata ceweknya nggak suka. Ada cewek yang kelihatannya merespon positif, Arga-nya yang merasa nggak cocok. Anna seperti jawaban permohonannya pada Tuhan Yang Maha Esa. Tapi kenapa baru sekarang ketemunya?
“Kenapa harus bingung sih, Ga?” tanya Garin, sahabat Arga waktu dia curhat tentang dilema yang dialaminya.
“Yah… Mau gimana, Gar? Gue juga kan nggak mungkin minta dia buat nunggu dua taun,” kata Arga. “Nggak adil buat dia. Lagian gue nggak bisa lah long distance gitu.”
“Kalo menurut gue sih, lo bilang aja. Masak long distance lo jadiin alesan?” balas Garin serius.
Arga diam.
***
Besok Arga pulang ke Indonesia. Dia menyalakan laptop dan berharap Anna sedang online.
None. User Anna tidak kelihatan dalam friendlist Yahoo Messenger-nya.
Beberapa saat kemudian beruang_biru sign in. Arga menunggu. Anna baru menyapanya setelah agak lama. Dia terlihat lebih diam daripada biasanya. Padahal mereka sudah lama nggak ngobrol dan Arga berharap percakapan yang seru dengan cewek itu.
Udah jam 1 malem nih, tulis Arga. Besok aku harus berangkat pagi, aku tidur dulu ya.
Anna menjawab singkat dan mengucapkan selamat malam. Arga kemudian mematikan laptopnya dengan segala kecemasan. Kembali ke Indonesia, kembali ke Jakarta. Bagaimana Anna akan bereaksi ketika bertemu dengannya setelah lama tidak bertatapan langsung? Bagaimana Arga akan bereaksi?
Cemas. Mungkin tidak keadaannya akan sama dengan ketika Arga meninggalkan Indonesia?
***
Anna membaca jam yang tertera pada ponselnya. Pukul 18.30, Arga bilang dia akan sampai di Jakarta kira-kira sebelum Maghrib. Anna ragu-ragu. Should her text him or not? Akhirnya Anna memutuskan akan aneh kalau dia tidak menghubungi Arga sama sekali ketika dia sampai di Indonesia.
Hey…, got home safely? tulisnya.
***
Arga baru menyalakan ponselnya lagi setelah larut malam, sebelum dia bersiap untuk tidur. Naik bus dari Melbourne ke Canberra, kemudian penerbangan Canberra-Bali, dilanjutkan dengan Bali-Jakarta, ditambah perjalanan dengan mobil dari Cengkareng ke rumahnya cukup membuat Arga kecapekan. Namun pesan singkat dari Anna toh membuatnya tersenyum.
Arga membalas SMS Anna, kemudian Anna menyuruhnya untuk istirahat. Arga pergi tidur malam itu dengan senyum lebar.
***
Tujuan Arga pulang ke Indonesia untuk santai liburan sepertinya akan jadi sebatas keinginan. Di rumah ia kembali ke posisinya sebagai sopir sekaligus kurir keluarga. Setiap hari ada saja permintaan dari bapak-ibunya yang membuatnya harus keliling Jakarta seharian. Ditambah lagi dia sepertinya belum terbiasa dengan perbedaan waktu di Jakarta yang lebih lambat tiga jam dari Melbourne. Pukul sepuluh saja matanya sudah berat dan ngantuk. Sisi positifnya, akhirnya dia bisa bangun pagi yang selama ini merupakan kelemahannya.
Baru malam ini Arga menyempatkan menelpon Anna. Akhirnya bisa menelpon Anna. Setelah enam bulan harus puas dengan percakapan via YM.
Suara Anna tetap lembut di telinga Arga. Mereka ngobrol-ngobrol dan Arga menceritakan keluhan-keluhannya.
“Kapan ke Bandung?” begitu Anna bertanya. Pertanyaan yang juga mengganggu Arga sejak kepulangannya ke Indonesia. Dia mau banget ke Bandung. Bertemu teman-temannya, mantan dosennya… bertemu Anna. Tapi dia sendiri nggak bisa memastikan. Dan akhirnya, Anna harus puas dengan jawaban: ‘nggak tau’ dari Arga, lagi.
***
Besok jam 1 pagi Anna harus pergi ke Jogja untuk Kerja Praktek. Sedangkan Arga pulang ke Jakarta dan akan kembali ke Melbourne beberapa hari kemudian. Hari terakhir untuk bertemu.
Sejak bangun tidur pagi tadi, Anna sudah melirik handphone-nya. Berharap Arga akan menghubunginya untuk bertemu. Terakhir mereka bertemu dua hari yang lalu, saat Anna mengajaknya makan kupat tahu di dekat kampus. Perasaan Anna saja kah kalau semakin lama mereka malah semakin menjauh? Padahal sekarang Arga di sini, di negara yang sama, di kota yang sama.
Sekarang jam 11.21, Arga tetap tidak menghubunginya. Means that he doesn’t want to see her anymore? Bahwa oke-oke saja buat Arga untuk pergi… without saying goodbye for the last time to her. Anna membenamkan dirinya lagi di bawah selimut. Dia belum packing barang-barang untuk Kerja Prakter. She’s just really not in the mood for anything.
***
Saat Arga pertama kali sampai di Bandung, dia menelpon Anna untuk makan malam. Arga sempat ragu-ragu, bagaimana reaksi Anna bertemu dengan dia? Apakah Anna masih orang yang sama yang dikenalnya setengah tahun lalu?
Saat sosok semapai berambut lurus itu menyapanya saat masuk ke dalam mobil, Arga seperti sulit percaya. Masih senyum yang sama, sikap yang sama. Seolah-olah enam bulan itu tidak ada untuk Anna. Yang membedakan hanya rambut Anna yang kini dipotong pendek.
Mereka makan, dilanjutkan dengan nonton film. Anna yang selalu terlihat manis, selalu tertawa, selalu mendengarkan. Hanya saja kini, Arga mencatat, dia agak lebih berani dalam menggoda Arga dan membalas kelakarnya.
Arga sudah mengubur keinginannya untuk punya pacar selama dia masih harus kuliah di Australia. Namun tetap saja, Arga cukup berharap mungkin dia dan Anna bisa tetap seperti ini. Jadi setelah S2-nya beres mungkin Arga siap dengan komitmen sebuah hubungan baru, who knows… Thx a lot, I really had a great time, tulisnya dalam sebuah SMS untuk Anna.
Sekarang Arga sedang ngulet-ngulet di kasurnya. Kasur teman yang kamar kosannya dia tumpangi, lebih tepatnya. Ia masih dalam baju tidur, menangguhkan mandi sampai siang. Dia ada janji dengan temannya jam satu nanti. Kemudian handphone-nya berbunyi. SMS masuk dari Anna, menagih farewell.
Arga nyengir. Dia juga mau ketemu Anna, tapi dia sudah ada janji dengan Rani, teman seangkatannya, siang ini dan janji datang ke “Biggest Party Ever” anak-anak Teknik Kelautan angkatan bawahnya. Sebetulnya dia sendiri sudah merencanakan sarapan bareng Anna sebelum dia pulang ke Jakarta besok.
Arga menekan tombol ‘send’ dan kembali ngulet. Handphone-nya berbunyi lagi.
Crap.
Dia lupa sama sekali Anna besok berangkat Kerja Praktek. Yang penting ketemu, Arga mengirim SMS mengajak makan siang. Ia menunggu… menunggu…
Huhh… Yawda, karna terakhir nggak pa-pa.
Fiuhh… Arga langsung mengabari Rani, menunda janji ketemuan, dan langsung mandi.
***
Anna sedang di kamarnya, packing barang-barang untuk dibawa ke Jogja. Dia tersenyum. Dia nggak tahu apa namanya dan dia nggak berani berspekulasi tentang bagaimana perasaannya pada Arga. Namun untuk sekarang, dia merasa ini sudah cukup. Cukup dengan bertemu Arga dan tertawa bareng. Dia tetap nggak tahu kemana arah hubungan mereka. Atau apakah hubungan itu cukup kuat untuk bertahan selamanya. Tapi dia tahu, dengan Arga, kali ini dia bahagia. Dan setidaknya untuk sekarang, cuma itu yang penting.